Jumat, 09 April 2010

menjinakkan anjing

MENJINAKKAN ANJING

Chapter Books: 60-65 halaman bergambar atau 4-5 halaman dalam 1,5 spasi; 3-4 halaman per bab; 2-4 kalimat per paragraf; untuk anak usia 7-10 tahun;

Sinopsis:

Saat berangkat sekolah Rian digonggong anjing, milik seseorang yang baru pindah rumah. Ia harus menghadapinya atau jika tidak, terpaksa Rian setiap berangkat dan pulang sekolah harus lewat jalan memutar yang lebih jauh. Kami, teman-teman di sekolahnya membahas cara untuk bisa membantu Rian menghadapi anjing itu.

Namaku Embun dan aku suka bangun pagi. Setelah mandi dan gosok gigi aku bersiap berangkat sekolah.

Beberapa buku yang kusiapkan telah ada di dalam tas punggung. Pensil, bolpoint, rautan dan penghapus. Kukira sudah lengkap tapi rasanya ada yang kurang. Oh ya topi bundarku! Topi bundar buatan ibu.

Langit sedikit mendung tapi udara pagi tetap terasa menyegarkan. Keluar dari pintu kuhirup udara dalam-dalam sampai memenuhi rongga paru-paru. Sebelum keluar dari halaman adik berteriak-teriak. “Dah…dah…!” Akupun membalasnya.

Ke sekolah aku lebih suka lewat pematang sawah karena lebih dekat. Lewat jalan biasa akan lebih jauh. Tapi kalau padinya sudah tinggi aku tak berani lewat sawah karena banyak ularnya. Kalau padinya sudah tinggi aku lebih memilih jalan biasa.

Setelah melewati beberapa petak sawah sampailah di sebelah rumah Hari. Ia sudah ada di depan rumahnya. Kami memang berencana berangkat bersama. Setelah berpamitan kepada Ibunya kamipun berjalan menuju sekolah.

Dari rumah Hari kami harus lewat jalan yang biasa. Jika ingin lewat pematang nanti kami harus meloncati parit dan itu merepotkan. Kalau lewat jalan biasa di atas jalur parit itu ada jembatannya.

Lewat jalan biasa ada keuntungan lainnya. Kami berpapasan dengan teman-teman satu sekolah. Tanjung naik sepeda diiringi Lindri. “Ketemu di sekolah ya!” seru mereka sambil melewati kami. Setelah itu Robert juga melewati kami dengan diboncengkan ayahnya naik sepeda onta.

Sampai di sekolah suasana sudah ramai. Ada yang bermain, ada juga yang menggerombol bercerita. Si Robert yang gemuk itu malah sudah makan roti sambil duduk di pembatas taman. Entah apa yang sedang dipikirkannya.

Rian yang sama gemuknya dengan Robert tampak sedang jadi pusat perhatian. Beberapa teman mengelilinginya. Mereka mendengarkan sambil sebentar-sebentar tertawa bersama. Aku mendekat ingin tahu. Hari langsung menuju kelas untuk menaruh tas. Tergesa ia berlari, langsung pula ikut menggerombol.

“Aku gak ngapa-ngapain tapi tetap dikejar” ujar Rian. Ada apa sih tanyaku pada Tanjung yang juga sedang asyik mendengarkan. “Rian, sewaktu tadi berangkat sekolah dikejar anjing.” terang Tanjung.

Anjing itu milik orang baru. Ia baru saja pindah rumah. Rian tak kenal dengan pemilik anjing yang tadi mengejar dan menggonggongnya.

Sepatu Rian basah dan kotor. Ia berlari dikejar anjing sampai terperosok di selokan. Wajahnya sudah berkilau karena keringat yang sudah kering. Bajunyapun berantakan. Tampaknya ia mengalami pagi yang naas.

“Nanti pulang sekolah bagaimana?” Tanya Lindri. “Mungkin aku akan bawa pemukul untuk menakut-nakuti anjing”. Ia menjawab agak ragu. Mungkin merasa tak cukup berani untuk melakukannya. “Atau aku harus lewat jalan lain. Tapi jalan itu lebih memutar dan butuh waktu lebih lama,” jawab Rian.

Jika dia menghindari maka setiap berangkat dan pulang sekolah Rian harus selalu lewat jalan memutar. Tapi untuk melawan keganasan si anjing yang menggonggongi dan mengejarnya Rian tak berani.

“Minta saja kepada orang dewasa yang kau temui di dekat rumah anjing itu untuk mengusirnya,”usul Tanjung. “Tapi apakah pasti setiap kali lewat ada orang dewasa yang kebetulan melintas?” Salah seorang menimpali.

Banyak usul bermunculan lalu ditampung, sambil mencari penyelesaian yang lebih mungkin dan mudah. Lalu bel berbunyi, tandanya jam pelajaran dimulai.

Saat pelajaran Pak Guru membacakan kisah Pangeran Kecil, terjemahan dari Little Prince karya Antoine. Entah kebetulan atau tidak, di dalamnya ada peristiwa saat Pangeran Kecil menjinakkan seekor rubah.

Pangeran kecil bertemu dengan seekor rubah. Ia jadi teringat pada bunga yang ditanam di rumah yang ditinggalkannya. Bunga itu adalah sahabat satu-satunya bagi Si Pangeran Kecil. Ia selalu menyiram dan memeliharanya.

“Seseorang hanya akan mengerti apa yang sudah dijinakkannya. Jadi jika kau menginginkan sahabat, jinakkanlah aku” tutur Pak Guru menirukan kata-kata si rubah.

Ya, menjinakkan. Seperti ibu yang selalu memelihara bunga sehingga bunga-bunga yang ditanam menjadi sahabatnya. Seperti aku yang berusaha mengerti ‘kenakalan’ adikku sehingga kini ia menjadi sahabatku.

Cerita itu menginspirasiku. “Rian, bukankah anjing itu bisa dijinakkan?” aku mengajukan sebuah ide dalam bentuk pertanyaan kepada Rian. Ia menatapku sejenak lalu berujar, “Aku tak pernah mempunyai peliharaan, aku tak tahu bagaimana caranya menjinakkan.”

“Kita bisa bertanya kepada seseorang yang tahu,” kata Tanjung. Tapi siapa, itulah masalahnya. Aku berusaha mengingat-ingat orang yang kukenal yang bisa menjinakkan anjing. “Ah ya tentu saja si pemilik anjing itu,” pekikku pada teman-teman yang lain. Aku merasa telah menemukan sebuah penyelesaian.

Yang lain ikut mengangguk-angguk. “Ya, pastilah si pemilik anjing itu tahu caranya, tapi bagaimana kita kesana? Jangankan masuk, lewat depan rumahnya pun kita mungkin sudah dikejar si anjing peliharaannya.” Rian mengingatkan.

“Ini hanya usul, bagaimana jika datang bersama-sama? Kalau bersama-sama mungkin anjingnya yang jadi takut kepada kita. Apalagi kalau masing-masing dari kita membawa kayu”. Tanjung si kurus mengajukan ide brilian.

Begitulah, kami sedang mempersiapkan sebuah petualangan bersama, MENGHADAPI ANJING. Usai sekolah, satu demi satu datang dan berkumpul di gerbang sekolah.

Kami seperti pasukan yang siap berperang. Si Tanjung bahkan sudah membawa ranting panjang. Dia meminta dari Pak Warso penjaga sekolah. “Kita mendapat tambahan dukungan,” Si Lindri datang sambil berseru. Di sebelahnya si Eni dan Robet yang tadi pagi tidak ikut berembug.

“Robet ayo, kita pulang sekalian mampir kantor pos!” O…ooo. Ayah Robet sudah menunggu. Berkuranglah anggota pasukan. “Maaf yaa…,” Robet beringsut dengan membawa tatapan merasa bersalah.

Semua yang sudah berkumpul seakan baru ingat bahwa mereka belum minta ijin kepada orang-tuanya. Bisa-bisa mereka dicari-cari ayah-ibunya. Wah, karena terlalu semangat malah jadi lupa harus pulang dulu.

“begini saja, nanti sore jam tiga kita berkumpul di rumahku karena rumahku paling dekat dengan rumah pemilik anjing. Lalu kita bersama-sama menemuinya ” usul dari Lindri. Aku setuju, Hari yang berdiri di sebelahku juga setuju. Semua yang telah berkumpul menyatakan setuju.

Jadi kami semua sepakat perang MENGHADAPI ANJING ditunda nanti sore. Rian untuk kali ini terpaksa harus pulang lewat jalan memutar untuk menghindari menjadi korban si anjing. Hanya untuk kali ini, sebab nanti sore kami sudah akan bisa MENJINAKKAN ANJING.

Sore jam tiga kurang, Hari sudah menyambangiku. Setelah pamit kepada Ibu aku dan Hari segera menuju rumah Lindri. Udara terasa panas. Untunglah jalan menuju rumah Lindri dinaungi rimbun dahan pepohonan.

Sampai di rumah Lindri teman-teman yang lain telah berkumpul tinggal menunggu Tanjung. Beberapa saat kemudian Tanjung datang bersama Robet. Rumah mereka memang bersebelahan. Utuhlah pasukan penjinak anjing kami.

Kami segera berangkat. Masing-masing membawa galah atau ranting. Berjalan tidak terlalu jauh lalu menyeberangi sebuah jalan raya, sampailah kami di dekat rumah tujuan.

Dengan pelan dan waspada, setapak demi setapak kami menuju gerbang rumah yang dituju. Semua nampak tegang, khawatir kalau-kalau tiba-tiba si anjing muncul.

Dari luar kami mengawasi halaman rumah besar di depan. Pelan-pelan kami melongok ke kanan dan ke kiri. Dan, “Guk..guk..guk!” suara itu membuat kami pontang-panting. Ada yang lari ke seberang jalan ada pula yang mencari tempat sembunyi.

“Texi…Texi…texi!” anjing itu dipanggil pemiliknya. Seorang perempuan yang usianya lebih tua dari kami. Si anjing yang bernama Texi itu berhenti mendekati kami tapi tetap menggonggong.

Setelah suasana aman dan terkendali, tali pengikat terpegang si pemilik, Texi disingkirkan ke dalam rumah, dan teman-teman sudah kembali ke dalam barisan, Kakak pemilik anjing itu meminta maaf sambil menanyakan maksud kedatangan kami yang berombongan. Aku lihat dahinya mengernyit melihat setiap kami membawa galah dan ranting kayu. Walau begitu kakak itu tak menanyakannya.

Awalnya kami hanya saling berpandangan, lalu aku mulai menjawab. Aku menceritakan tentang kisah Rian tadi pagi. Aku juga menyampaikan niatan kami untuk belajar menjinakkan anjing.

Kakak itu tersenyum. Ia mempersilahkan kami masuk. Kami duduk di gazebo yang ada di halaman depan.

“Kakak minta maaf. Karena kurang hati-hati membuat celaka Rian. Tadi pagi kakak lupa membawanya ikut berbelanja sayuran. Kalau Texi sendirian di rumah, ia akan menggonggong ke setiap orang yang lewat. Ia merasa harus menjaga rumah.”

“Untuk menjinakkan anjing dibutuhkan kesabaran. Anjing harus dibuat terbiasa dengan kehadiran kita, dan jangan dibuat takut. Sebenarnya anjing menggonggong lebih sering karena takut atau terganggu daripada ingin menggigit.”

“Jadi kita harus terbiasa dengannya, sampai berapa lama?” Tanya Rian. “mungkinkah menjinakkan anjing dalam satu hari?” lanjutku.

“Dimulai dari satu hari, kemudian dua hari, kemudian tiga hari. Itulah kesabaran. Kita tak bisa menjinakkan anjing dengan cara tergesa.” Jika anjing sudah terbiasa maka ia akan jinak dengan sendirinya.

“Kalian mau memulainya hari ini?” Tanya kakak. Lagi-lagi kami saling bertatapan sambil menyimpan rasa panik. Kami tak tahu apa yang akan terjadi. “Siapa takut” celetuk Robet.

“Baiklah kita mulai pelajaran pertama menjinakkan anjing dengan praktek.” Kakak itu menuju pintu rumah. Kami membuang galah dan ranting kayu yang kami geletakkan dekat gazebo. Sudah tak diperlukan lagi. Dan….mulailah kami belajar menjinakkan anjing.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar